Q3:61, yaitu: Siapa yang membantahmu tentang kisah 'Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): "Mari kita memanggil anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian mari kita bermubahala kepada Allah dan kita minta supaya la'nat Allah ditimpakan kepada orang-orang TafsirQS. Al-Hajj (22) : 46. Oleh Kementrian Agama RI. Orang-orang musyrik Mekah yang mendustakan ayat-ayat Allah, dan mengingkari seruan Nabi Muhammad ﷺ sebenarnya mereka sering melakukan perjalanan antara Mekah dan Syiria, serta ke negeri-negeri yang berada di sekitar Jazirah Arab. Mereka membawa barang dagangan dalam perjalanan melihat bekas-bekas reruntuhan negeri umat-umat yang dahulu Olehkarena itu, janganlah kita termakan isu-isu dusta yang dibuat oleh orang-orang Syiah, Mu'tazilah, dan para orientalis sehingga kita membenci sejarah emas pendahulu kita. Yang buruk dari bagian sejarah mereka, kita katakana itu buruk, namun kita tidak melupakan jasa-jasa baik mereka. Disusun oleh Nurfitri Hadi Artikel www.KisahMuslim.com 2 bahwa jin mendengar dan mengerti bahasa manusia, sebagaimana juga dinyatakan dalam ayat-ayat lain. 3. bahwa jin juga akan dihisab sebagaimana halnya manusia. 4. bahwa adanya jin yang juga yang berdakwah kepada kaumnya. 5. agar orang-orang Quraisy mengetahui bahwa jin saja ketika mendengar Al-Qur'an mengakui kemukjizatannya dan beriman KisahNabi Nuh Dalam Al-Quran. Al-Quran menceritakan kisah Nabi Nuh dalam 43 ayat dari 28 surah di antaranya surah Nuh dari ayat 1 sehinga 28, juga dalam surah "Hud" ayat 27 sehingga 48 yang mengisahkan dialog Nabi Nuh dengan kaumnya dan perintah pembuatan kapal serta keadaan banjir yang menimpa di atas mereka. 61Kisah Pengantar Tidur Banyak cara untuk mendapatkan hikmah, salah satunya dengan mempelajari kisah-kisah umat-umat terdahulu. Dalam al-Qur`an Allah q berfirman, dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. Difirmankan: 'Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari kami.'" (QS. Huud, 11: 38 - 48) Hadistentang azab kubur dari ghibah dan buang air kecil. 1344. Telah menceritakan kepada kami Qutaybah dia berkata telah mengkhabarkan kepada kami jarir dari al-'Amasy dari mujahid dari ath-Thawus dari ibn 'Abbas : nabi saw telah lewat disamping dua kuburan : ( ( sesungguhnya dua orang ini sedang diazab dan dua orang ini diazab karena dosa PERPECAHANDIKALANGAN UMAT ISLAM. by Fadhil ZA · September 26, 2009. Perpecahan dalam tubuh umat Islam sudah mulai terjadi beberapa waktu setelah Rasulullah wafat, dimulai dengan terjadinya perang jamal antara pengikut Ali dan Siti Aisah istri Rasulullah, pembunuhan terhadap kalifah Umar bin Khatab, Ustman dan Ali. Qatadahberkata, "Bertaqarrublah kepada-Nya dengan mentaati-Nya dan beramal dengan sesuatu yang Dia ridhai." 1- Amal saleh yang dilakukan diwaktu senang, dapat dimanfaatkan seseorang di waktu sulit. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Jagalah Allah, Dia akan menjagamu. XUexu. Muslimahdaily - Kisah perjalanan Nabi Musa dan Khidir sangat terkenal dan sering kali dilisankan para da’i. Kisah penuh hikmah itu tercantum dalam Al Qur’an Al Karim agar menjadi pelajaran bagi umat hingga akhir zaman. Di antara hikmah kisah tersebut, terdapat satu pelajaran berharga yang tak boleh luput diasingkan. Yakni kisah anak durhaka dan bagaimana Khidir mendapat ilham tentangnya. Singkat cerita dipetik dari perjalanan Nabi Musa dan Khidir. Di tengah perjalanan mereka, ketika keduanya telah berlabuh dari sebuah kapal, nampak berkerumun para pemuda yang sedang bermain. Khidir lalu menarik salah satu dari mereka. Nabi Musa yang melihatnya tentulah dibuat bingung. Belum lagi aksi yang dilakukan Khidir, yakni membunuh pemuda tersebut. Nabi Musa pun segera berkata, “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar.” Khidhir menjawab, “Bukankah sudah aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?” Sebelum perjalanan bermula, Khidir memang telah memperingatkan Nabi Musa ketika sang kalimatullah ingin mengembara bersama Khidir demi menuntut ilmu. Khidir berkata kepada Nabi Musa, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. Bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” Namun di awal perjalanan pula, Musa berkata, “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.” Namun ternyata Nabi Musa tak sabar untuk diam ketika melihat sesuatu yang menurutnya sebuah kemungkaran. Padahal tidaklah perbuatan yang dilakukan Khidir melainkan ilham dari Allah. Pun saat membunuh seorang anak. Khidir bukan melakukannya atas dasar kejahatan. Khidir menjelaskan maksud perbuatannya tersebut di akhir perjalanannya dengan Nabi Musa. Beliau menjelaskan, “Anak muda itu, kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya kepada ibu bapaknya.” Alasan inilah yang tak diketahui Nabi Musa hingga menganggapnya sebagai kemungkaran. Padahal yang dilakukan Khidir adalah atas perintah Allah Ta’ala. Dari kisah tersebut pun dapat dipetik pelajaran, tentang bagaimana Allah menjaga orang tua yang saleh dan menghalangi kejahatan seorang anak durhaka, serta bagaimana kejahatan durhaka kepada orang tua dianggap lebih berat dari kejahatan membunuh. Anak Durhaka yang Menyesatkan Orang Tua Membunuh merupakan dosa besar di dalam Islam. Yang dilakukan Khidir jelas sebuah kejahatan. Namun ternyata perbuatannya sesuai dengan kaidah dalam syariat Islam tentang bolehnya mencegah mafsadah kerusakan, kemungkaran atau kejahatan yang besar dengan melakukan mafsadah yang lebih ringan. Aksi Khidir membunuh seorang pemuda dianggap memiliki mafsadah yang lebih ringan ketimbang perilaku pemuda tersebut terhadap orang tuanya. Mengapa bisa demikian? Pasalnya, si pemuda tersebut berbuat buruk kepada orang tuanya dan dapat menyesatkan keduanya. Jika dibiarkan tumbuh besar, maka ia akan membahayakan agama ayah ibunya. Si pemuda kafir dapat menjadi musibah besar bagi orang tuanya dan mengajak keduanya kepada kekafiran. Karena itulah, ketika Khidir mendapat ilham dari Allah tentang keadaan pemuda tersebut, ia mengambil keputusan untuk membunuh si pemuda. Sebagai gantinya, Khidir berdoa kepada Allah agar mengganti pemuda tersebut dengan anak yang saleh lagi berbakti kepada kedua orang tuanya. Sungguh Allah maha kuasa untuk mengabulkannya. Kisah tentang Khidir, Nabi Musa, dan pemuda durhaka terdapat dalam Surah Al Kahfi. Sungguh pelajaran yang sangat berharga bagi muslimin. Kita berlindung kepada Allah dari sikap durhaka kepada orang tua, berlindung dari perilaku maksiat yang menyebabkan kekafiran keduanya, dan memohon kepada Ar Rahim agar selalu diberi petunjuk kepada Sirath Al Mustaqim. Jakarta - Kisah tentang azab yang menimpa umat-umat terdahulu dapat kita jumpai dalam surat Al-Ankabut, Al Najm, Hud, Qaf, An Naml, Yunus, Qasas, Saba, dan Ad Dukhan. Sejumlah surat tersebut juga menceritakan kaum yang dibinasakan Allah Allah SWT adalah hal yang nyata adanya. Dalam surat Al-Ankabut ayat 21 Dia berfirmanيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَرْحَمُ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَاِلَيْهِ تُقْلَبُوْنَ - ٢١Artinya "Dia Allah mengazab siapa yang Dia kehendaki dan memberi rahmat kepada siapa yang Dia kehendaki, dan hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan."Dalam firman lanjutan-Nya, sebagaimana ditafsirkan oleh Kementerian Agama Kemenag, Dia menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa lepas dari azab Allah. Bahkan, orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka yang berputus asa dari rahmat-Nya akan mendapatkan azab yang اَنْتُمْ بِمُعْجِزِيْنَ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ ۖوَمَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ ࣖ - ٢٢ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَلِقَاۤىِٕهٖٓ اُولٰۤىِٕكَ يَىِٕسُوْا مِنْ رَّحْمَتِيْ وَاُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ - ٢٣Artinya "Dan kamu sama sekali tidak dapat melepaskan diri dari azab Allah baik di bumi maupun di langit, dan tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah. Dan orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan-Nya, mereka berputus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu akan mendapat azab yang pedih." QS. Al-Ankabut 22-23.Dijelaskan dalam buku Kemudahan dari Allah Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir yang disusun oleh Muhammad Nasib Ar-Rifa'i, Allah SWT menceritakan kondisi orang-orang yang menyekutukan-Nya ketika di dunia dan azab yang akan mereka terima di akhirat lantaran mereka menjadikan beberapa tandingan untuk disembah dan dicintai seperti mencintai-Nya. Lihat QS. Al Baqarah 165-167.Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Abdullah bin Mas'ud berkata, "Saya bertanya, 'wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar?' Beliau bersabda, 'Bila kamu membuat tandingan Allah padahal Dialah yang menciptakanmu'."Berikut beberapa kisah tentang azab yang menimpa umat-umat terdahulu sebagaimana terdapat dalam Al-Qur' Surat Al-Ankabut Ayat 14Surat Al-Ankabut ayat 14 mengisahkan tentang azab yang diberikan kepada kaum Nabi Nuh AS yang durhaka kepadanya. Allah SWT kemudian mengirimkan banjir bandang dan menenggelamkan اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَلَبِثَ فِيْهِمْ اَلْفَ سَنَةٍ اِلَّا خَمْسِيْنَ عَامًا ۗفَاَخَذَهُمُ الطُّوْفَانُ وَهُمْ ظٰلِمُوْنَ - ١٤Artinya "Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim."2. Surat An Najm Ayat 50Surat An Najm ayat 50 menceritakan bahwa Allah SWT membinasakan kaum 'Ad yang pertama, kaum Nabi Hud AS. Kemenag menjelaskan dalam tafsirnya, yang dimaksud dengan kaum 'Ad yang kedua ialah kaum Iram bin Sam bin اَهْلَكَ عَادًا ۨالْاُوْلٰىۙ - ٥٠Artinya "dan sesungguhnya Dialah yang telah membinasakan kaum 'Ad dahulu kala,"3. Surat Hud Ayat 68Allah SWT juga menceritakan kisah tentang azab bagi kaum Samud melalui firman-Nya dalam surat Hud ayat 68. Kaum Samud adalah kaum yang mengingkari Nabi Saleh لَّمْ يَغْنَوْا فِيْهَا ۗ اَلَآ اِنَّ ثَمُوْدَا۠ كَفَرُوْا رَبَّهُمْ ۗ اَلَا بُعْدًا لِّثَمُوْدَ ࣖ - ٦٨Artinya "Seolah-olah mereka belum pernah tinggal di tempat itu. Ingatlah, kaum samud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, binasalah kaum samud."4. Surat Qaf Ayat 12Surat Qaf ayat 12 menjelaskan tentang beberapa kaum yang mendustakan para rasul terdahulu. Dia berfirmanكَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوْحٍ وَّاَصْحٰبُ الرَّسِّ وَثَمُوْدُ - ١٢Artinya 'Sebelum mereka, kaum Nuh, penduduk Rass dan Samud telah mendustakan rasul-rasul,"5. Surat An Naml Ayat 54Surat An Naml ayat 54 mengisahkan tentang kaum Nabi Luth AS yang berkelakuan menyimpang. Mereka adalah kaum Sodom yang menyukai sesama اِذْ قَالَ لِقَوْمِهٖٓ اَتَأْتُوْنَ الْفَاحِشَةَ وَاَنْتُمْ تُبْصِرُوْنَ - ٥٤Artinya"Dan ingatlah kisah Lut, ketika dia berkata kepada kaumnya, "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah keji, padahal kamu melihatnya kekejian perbuatan maksiat itu?"6. Surat Saba Ayat 16Surat Saba ayat 15 dan 16 menjelaskan tentang betapa pedihnya azab Allah SWT yang diturunkan kepada kaum كَانَ لِسَبَاٍ فِيْ مَسْكَنِهِمْ اٰيَةٌ ۚجَنَّتٰنِ عَنْ يَّمِيْنٍ وَّشِمَالٍ ەۗ كُلُوْا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْا لَهٗ ۗبَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَّرَبٌّ غَفُوْرٌ - ١٥ فَاَعْرَضُوْا فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنٰهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ اُكُلٍ خَمْطٍ وَّاَثْلٍ وَّشَيْءٍ مِّنْ سِدْرٍ قَلِيْلٍ - ١٦Artinya "Sungguh, bagi kaum Saba' ada tanda kebesaran Tuhan di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, kepada mereka dikatakan, "Makanlah olehmu dari rezeki yang dianugerahkan Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. Negerimu adalah negeri yang baik nyaman sedang Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirim kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi pohon-pohon yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit pohon Sidr."7. Surat Qasas Ayat 40Surat Qasas ayat 40 menceritakan tentang azab yang diturunkan kepada Firaun dan bala tentaranya. Mereka tenggelam dalam laut, sedangkan kaum Nabi Musa AS وَجُنُوْدَهٗ فَنَبَذْنٰهُمْ فِى الْيَمِّ ۚفَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظّٰلِمِيْنَ - ٤٠"Maka Kami siksa dia Fir'aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang zalim."Selain ketujuh surat di atas, kisah tentang azab yang menimpa umat terdahulu juga terdapat dalam surat Yasin 13, Al Araf 163, Al Furqan 38, At Taubah 70, Al Hijr 78, Thaha 40, hingga Asy Syu'ara 176. Simak Video "Permintaan Maaf Wanita Simpan Al-Qur'an Dekat Sesajen-Akui Tertarik Islam" [GambasVideo 20detik] kri/lus Jakarta - Islam tidak hanya membagikan kisah terdahulu yang mengisahkan tentang kedurhakaan seorang anak pada orang tuanya. Sebaliknya, pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab RA, ada salah satu kisah yang menggambarkan bentuk durhaka seorang orang tua pada ini diceritakan Ali bin Nayif Asy Syahuud dalam Mausu'atud difa'an Rasulullah yang bermula dari salah seorang ayah yang mengadukan kenakalan dan kedurhakaan anaknya pada Umar. Ia bercerita, anaknya selalu berbicara kasar, membentak, maupun perbuatan durhaka adil dan mendengar cerita dari kedua belah pihak, Umar pun memanggil anak tersebut untuk turut menghadapnya. Ia pun berkata pada sang anak,"Anak muda, apakah kamu tidak tahu kalau Allah memerintahkan anak berbakti kepada orang tuanya?" kata Umar yang diterjemahkan Majalah Ar Risalah Edisi anak justru berkata pada Umar, "Wahai Amirul Mukminin, jangan buru-buru menilaiku buruk. Aku akan jelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Bukankah orang tua juga memiliki kewajiban terhadap anaknya?"Beliau menjawab, "Ya, tentu saja."Anak itu pun bertanya lagi, "Lantas, apa itu kewajiban orang tua pada anaknya?"Umar pun menjawab, "Memilihkan ibu yang baik untuknya, memberinya nama yang bagus, dan mengajarkannya Al-Qur'an."Mendengar jawaban itu si anak pun berkata. "Wahai Amirul Mukminin, sungguh tak ada satupun dari tiga itu yang dilakukan oleh ayah. Ibuku adalah wanita haram keturunan Majusi. Ia menamaiku dengan Ji'lan yang bermakna kumbang.""Dan ia tidak pernah mengajariku satu huruf pun dari Al-Qur'an," lanjut anak Umar lantas marah pada ayah dari sang anak. Umar menganggap kisah antara ayah dan anak ini sebagai bentuk durhaka yang lebih dahulu dilakukan oleh sang ayah dibandingkan oleh berkata, "Kamu mengadu perihal anakmu yang durhaka, ternyata kamu sendiri telah durhaka kepada anakmu sebelum anakmu durhaka kepadamu. Dan kamu telah memperlakukan buruk kepada anakmu sebelum anakmu memperlakukanmu dengan buruk."Mengutip Mutia Mutmainnah dalam buku Keajaiban Doa & Ridho Ibu, kisah umat muslim di masa Umar bin Khattab ini mengingatkan muslim tentang figur penting kedua orang tua dalam membangun karakter anak yang diasuh dan dibesarkannya. Rasulullah SAW pernah bersabda dalam haditsnya,كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِArtinya "Semua anak dilahirkan dalam keadaan fitrah dan kedua orang tuanyalah yang kemudian menjadikannya Nasrani, Yahudi, atau Majusi." HR Bukhari.Melalui kisah ini, Islam juga menegaskan kesuksesan dan kebahagiaan dunia akhirat akan sejalan dengan seberapa besar usaha dan perjuangan orang tua dalam mendidik, mengarahkan, dan membesarkan anak-anaknya sejak lahir hingga dewasa. Simak Video "Syakir Daulay Akhirnya Pulang dan Minta Maaf ke Orang Tua" [GambasVideo 20detik] rah/lus